Tuesday, March 27, 2012


JIKA RAKSASA ITU HENDAK DIKALAHKAN
( 1 Samuel 17)
Rev. Saumiman Saud *)

          Apabila kita mengingat kembali peristiwa-peristiwa besar dalam Alkitab, ternyata peristiwa-peristiwa yang besar bukan terletak pada perang antar Negara atau bangsa, namun justru perang perorangan antara Daud dengan Goliat.  Sebenarnya pertempuran ini bukan pertempuran yang wajar, karena kekuatan mereka jika diukur di meja pertarungan tidaklah seimbang. Di atas kertas Goliat itu harus menang atas pertandingan ini. Mengapa? Karena tubuh Goliat itu lebih besar,  Alkitab mencatat  ukuran tubuh Goliat itu kira-kira 9 kali dan 9 inci atau 2,97 meter, jadi hampir 3 meter. Lebih tinggi dari pemain basket yang bernama  Yao Ming, karena Yau Ming tingginya hanya 2, 29 meter. Goliat bahkan sudah di beri gelar manusia raksasa.

            Namun rupanya apa yang diperkirakan manusia justru berbeda dengan kenyataan. Daud yang bahkan tidak kuat mengenakan seragam perang ini dapat mengalahkan Goliat yang penuh dengan berbagai perlengkapan perang.  Pertanyaannya mengapa demikian? Ada apa dengan sang Goliat? Apa kelebihan Daud? Mari kita lihat bagaimana Daud dapat mengalahkan si raksasa itu?         Ada banyak hal yang perlu diperhatikan bila seseorang hendak mengalahkan raksasa, namun melalui kesempatan ini kita akan coba melihat tiga cara yang dipakai oleh Daud.

1.      Daud  sadar bahwa Tuhan pernah memeliharanya

Tidak ada musuh yang tidak membahayakan, termasuk juga musuh Daud saat ini. Namun mengingat apa yang telah Tuhan perbuat di dalam sejarah hidupnya maka Daud tidak merasa gentar. Daud tidak harus merasa cemas terhadap musuh, karena sesuai pengalamannya pada masa lalu Tuhan pasti menolongnya.  Coba kita perhatikan 1 Samual 17 :34-37 ,  raja Saul sudah merasa gentar dan takut  terhadap Goliat (ay 11 ). Padahal  Saul sendiri adalah orang yang terpilih, ingat bahwa tubuhnya lebih tinggi dari seluruh bangsanya. 

Tatkala Daud mengetahui bahwa raja Saul tak berdaya, maka ia menawarkan diri untuk melawan musuh tersebut. Namun ia kurang mendapat tanggapan, karena selain Daud masih muda juga belum berpengalaman (ay 33). Lalu Daud menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai seorang gembala domba. Tatkala Singa dan Beruang menerkam dombanya, ia berdiri meyerang , menghajar dan membunuhnya. Daud tahu, bahwa semua kekuatan dan keberanian ini bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi di dalam ay 37 ia mengatakan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Sehingga meyakinkan Saul dan ia berkata : "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

Mengingat kembali apa yang Tuhan pernah kerjakan dalam hidup kita dapat memberikan kekuatan secara khusus bagi kita. Ternyata selama ini Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Nah , kalau selama ini Tuhan telah memelihara kita begitu rupa, tentu untuk hari ini dan masa-masa mendatang Tuhan yang sama juga tidak meninggalkan kita. Kadang lucunya Tuhan justru mendatangkan kebaikan bagi kita melalui orang-orang yang sebenarnya hendak mencelakakan kita.

            Kira-kira apa yang saat ini sedang menjadi musuh terbesar dalam hidup anda?   Kesulitan mendapat pekerjaan? Persolan Keluarga? Masalah dalam perkuliahan? Sakit yang diderita tidak kunjung sembuh? Bukankah pada waktu-waktu silam Tuhan sudah memelihara engkau? Bahkan Tuhan Yesus juga telah mati untuk engkau, apalagi yang perlu ditakuti?  Ada orang bilang kematian itu merupakan ketakutan yang paling dahsyat? Namun bukankah yang lebih baik dari itu sudah kita dapatkan? Oleh sebab itu kalaupun ada bahaya yang mengancam hingga ingin merengut nyawa, kitapun tidak perlu gentar; sebab dahulu Tuhan telah menyelamatkan kita dan untuk hari ini dan masa mendatang  juga berlaku hal yang sama.

            2. Daud hanya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan

            Janji muluk-muluk dari dunia dapat mengecewakan kita, termasuk orang-orang yang dekat dengan kita. Suami, isteri, anak-anak termasuk para sahabat dekat dapat mengecewakan kita. Kita tidak dapat mengharapkan manusia sepenuhnya, karena hati mereka begitu cepat berubah. Pada waktu manusia itu  baik, maka rasanya baik sekali, namun bila terjadi benturan maka ia akan menjadi jahat sekali. Jadi  di dunia ini tidak ada yang dapat kita andalkan. Diri sendiri juga bukan andalan  (Hosea 10 :13), karena tiba saatnya juga akan hancur dan lenyap. Lalu apa lagi yang dapat kita andalkan? Senjata? Uang? Titel? Jabatan? Kesehatan? Semua itu akan lenyap dan hilang begitu saja.

            Daud sangat memahami masalah ini. Baginya pakaian perang dan segala senjatanya tidak dapat diandalkan, selain tidak biasa baginya juga sangat berat, sehingga ia tidak sanggup berjalan. Fokus utama Daud bukan kepada sang musuh, namun ia berfokus pada Tuhan. Maka satu-satunya yang perlu diandalkan hanya Tuhan.  Yeremia 17 : 7 mencatat ”Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”   Kemudian Daud mengambil tongkatnya,, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia maju mendekati orang Filistin itu.  (1 Samuel 17 :40  )

            Hari ini apa saja yang menjadi andalan di dalam kehidupan anda? Kekayaan dapat lenyap, umur dapat menjadi tua, teman bisa meninggalkan kita, pasangan hidup sifatnya sementara; satu-satunya yang paling utama adalah Tuhan, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Mari bersandar sepenuh pada Tuhan, maka Ia akan memberikan pertolongan pada kita.

2.      Daud mengambil inisiatif beregerak maju

Dalam kondisi yang genting ini, Daud tidak pernah merasa gentar; karena Ia tahu Tuhan bersamanya, dan ini merupakan modal utamanya. Dalam 1 Samuel 17:38-39 terlihat nyata bahwa Daud bukan berdiam diri tetapi ia bergerak maju, walaupun musuh menyerang. Daud memenangkan pertandingan akbar ini, karena Daud tahu untuk mencapai keberhasilan maka  kita tidak boleh berdiam diri. Maju terus dan dan pantang menyerah.

Sewaktu saya masih tinggal di Kampus Seminari , Malang , teman saya pernah bercerita suatu pengalaman yang unik. Di Asrama sekolah dipelihara dua ekor anjing yang cukup galak. Jadi kalau malam hari setelah jam 23.00 anjing itu bakal dilepaskan hingga besok pagi kira-kira jam 05.30 baru anjing tersebut dimasukkan ke dalam kandang. Seorang teman seangkatan yang biasanya olah-raga pagi kali ini cukup kelabakan karena ia dikejar oleh anjing tersebut. Di tengah-tengah kepanikan itu, apalagi tatkala ia tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba ian menjadi nekad. Ia membalikkan dirinya dan  mengejar anjing itu; ternyata  anjing itu yang melarikan diri.  

Bila ketakutan datang menyerang, kita tidak boleh tinggal diam, kadang kita juga perlu mengambil “sikap menyerang balik”. Kata ‘sikap menyerang balik” sengaja dipasang tanda petik  maksudnya serangan baliknya itu bukan dalam arti balas dendam, namun justru melakukan yang terbaik. Dalam konteks ini Daud telah melakukan yang “terbaik” karena dengan demikian ia telah meyelamatkan bangsanya.

Sebuat artikel yang menarik disajikan oleh majalah Fortune mengenai sebuah perusahaan kecil yang berhasil mengalahkan jaringan kedai kopi raksasa Sturbucks. “Saya hanya punya dua pilihan, melakukan hal yang radikal atau dengan terpaksa menutup usaha saya,” kata pengusaha Mike Sheldrake yang tokonya sedang mengalami ancaman. Usahanya telah berjalan 22 tahun, Polly’s Gourmet Coffee di long Beach, California. Dengan dibukanya toko Starbucks yang hanya berjarak sembilan blok, menyebabkan pendapatan per-tahun Sheldrake yang bernilai $1 juta mengalami penurunan lebih dari 5% setiap bulannya. Akibatnya dalam setahun pandapatannya turun hingga bernilai $800.000

Tidak lama kemudian, toko Starbucks lainnya dibuka lagi, kali ini jaraknya kurang dari 100 meter. Sebenarnya Sheldrake dapat saja menutup usahanya dan pindah tempat, namun seperti tokoh dalam Alkitab ini, Sheldrake memutuskan untuk bertarung.  Sheldrake menggunakan pendekatan yang tepat sasaran yakni dengan beranologi pada 5 batu licin” yang diwujudnyatakan dalam bentuk memperbaharui penampilan toko, traning kembali para pegawai, insentif kerja pegawai dinaikkan, mulai menjual biji kopi hangat yang disajikan langsung dari pemanggang. Dan  yang kelima teknik yang paling jitu dan ampuh yakni pemanggangnya yang dibuat tahun 1929 diletakkan di tengah-tengah toko untuk menarik perhatian orang. Bersama dengan tekad dan komitmen untuk melakukan pelayanan yang lebih baik akhirnya tim Sheldrake ini dapat mempertahankan eksistensi toko tersebut, walaupun sebenarnya mereka sedang menghadapi toko kopi raksasa Starbucks.
             
            Jika raksasa dalam hidup anda hendak disingkirkan , maka kita perlu ingat bahwa kasih Tuhan begitu luar biasa pernah terjadi dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan Tuhan saja, bukan pada manusia atau materi dan yang paling penting kita jangan berdiam diri, namun kita harus bergerak maju dan pantang menyerah. ( San Jose , 25 Juli 2007,  11:39 pm)

*) Penulis adalah alumni Seminari Alkitab Asia Tenggra Malang (SAAT) melayani di San JoseCalifornia, dapat dihubungi via emailsaumiman@gmail.com  atau kunjungi situs pribadinya http://www.saumimansaud.org

No comments:

Post a Comment