Saturday, March 31, 2012


Komentar Pembaca

Dear Saumiman Saud,

 I was really blessed about your article, thank you for describing ‘Zacchaeus’ in a different perspective. Interesting!!
God bless you pak !!

Awesome,
Leslie  

------------------


Hello America, hello you...
My name is Iris. I just read your article about how to live in America. Wow.. really, thats great information! All information that I need, I found them on your articles. 
For me, that article is perfect, very detail and complete. For some words are not correct, but only about process of writing... maybe you are in hurry when you writing that topic... or you got too much ideas... maybe... I just guess :))  Hope you dont mind, read again that article please (HELLO AMERIKA, SENDIRI DATANG SENDIRI RASA) and you will know what I mean.But dont worry, I know what you mean in that words.
So thank you.. thank you.. thank you very much for writing that articles. Keep on writing :)
God bless you.


Cheers,
Iris Sirait.


Hallo Pdt. Saumiman Saud,

Cerita soal GPS, terus terang saja, saya tidak pernah ada keinginan punya penunjuk jalan yang namanya GPS, kalo kita bergantung kepada alat penunjuk jalan tersebut kita malah menjadi bodoh, tentu saja kita tidak boleh menbandingkan ketergantungan kita kepada Tuhan Yesus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita.

Dalam Kesempatan ini saya dan keluarga Mengucapkan Selamat Hari Paskah yang kematianNYA kita akan rayakan dalam Jumat Agung Lusa 21 Maret 2007, Tuhan Memberkati Pendeta Saumiman Saud dan Keluarga.

Salam,

N Nasir, Los Angeles

--------------------------------

Shalom Ps. Saud
Bersama email ini saya berterima kasih karena diizinkan mengambil naskah naskah bapak untuk dimuat dalam Renungan Harian Yeshua yang saya terbitkan,sehingga naskah bapak dapat menjadi berkat. Sekali lagi dengan izinkannya saya mengambil naskah bapak.
Tulisan tulisan bapak sangat banyak memberkati. Maju terus dalam Tuhan.
Tuhan Yeshua Memberkati pelayanan bapak.
YBU, Priskila SH.MA ,
Indonesia

 
 
====================
Tulisan-tulisan Pdt. Saumiman Saud yang dirangkum dalam web cukup bermanfaat bagi kami. secara tidak langsung ini menjadi sebuah database tulisan rohani yang dapat diakses dan dinikmati khalayak ramai kapan saja dan dimana saja. ada sedikit saran, web yang demikian baik ini jika memungkinkan diberitahukan kepada lingkup yang lebih luas, terutama kalangan kristen di Indonesia, dari berbagai gereja yang berbeda. Agar menjadi berkat yang lebih luas lagi. Bravo!
 Salam,
Johannes Luk
Medan


=============================

 
Kalo mo ngomong  soal menarik ya…web ini cukup menarik dan Ok Banget!
nyang bikin menarik n’ OK  kan bukan warna dan bentuk web yang  keren dan gemerlapan, ya kalo ada ya gak apa-apa sich..bagus juga hehehe.
 
Tapi nyang penting kan ada  tulisan-tulisan asli dari nyang empunya web ini.
Yaitu Bang Saud, apalagi tulisan-tulisannya berisi pergumulan pelayanannya,
kan jadi tambah keren geto.
Nyang  saya sendiri jujur aja sich…gak bias nulis tu  kayak geto.
Emank sich  Bang Saud  itu pinter nulis…sama tu ama temen-temen SAAT nyang laennya  pinter nulis pada. Kerennnnnn bo! Salut untuk kalian semua!
 
Merce  yang terdampar di Malaysiahttp://profiles.friendster.com/sisfmalaysia
 
================================
 
Halo Pdt. Saud,
Thank you buat article  article yang menarik yang sudah disampaikan melalui buku buku Pdt Saud.
Saya senang sekali membaca buku Pdt.Saud, antara lain  Pendetaku seperti superman,Kualitas kehidupan orang percaya,Dinamika kehidupan orang percaya, Dibalik topeng orang percaya. Apa yang sudah ditulis sungguh menyentuh dan dapat reflection buat kehidupan kita sehari hari.
Saya tunggu buku berikutnya. Terima Kasih. God Bless!
 
Salam,
Diana Iskandar
San Francisco
 
=============================
 
melihat website yang baru ini memang terasa bedanya...tampilan yang lebih menarik, ditambah artikel2 berbobot yang terus bertambah jumlahnya, membuat website ini menjadi vitamin penambah semangat dan memberi pencerahan dalam konsep berpikir... seperti Bpk. Eddy Fances selalu berkata dalam kelas homiletika: Maju terus..., kiranya website ini dapat terus berkembang dan jadi berkat buat orang percaya lainnya.GBU.
 
Ev Martin Kurniawan,
GKY Ujung Pandang
 
 
=============================================
 
Hallo Pak Saud,
 
Sebagai pembaca dan pengamat tulisan-tulisan rohani bapak baik di media cetak maupun dalam bentuk artikel lepas di dunia maya, saya hanya bisa berkata :
 
" Teruslah berkarya,pantang mundur....biarlah tulisan" bapak menggugah kita sebagai generasi selanjutnya untuk hidup dalam kebenaran atau paling tidak termotivasi menghasilkan suatu karya yang berkualitas dalam mengisi hidup ini ". 
 
Tedy Wibowo.
San Francisco
====================================
 
Dear Pak Saumiman Saud,
 
Cuma ingin sampaikan terimakasih buat tulisan-tulisannya yang menjadi berkat.
Kami sendiri tinggal di negeri Tirai Bambu (hampir lima tahun)
 
salam
 
Hendra Rey
China
 
 
============================================
Pdt. Saud,

Terima kasih utk artikel "Jika Doa Kita Tidak Dikabulkan".
Lin skg sedang mengalami pergumulan & struggle dlm mencari tahu Kehendak
Tuhan. Artikel ini menguatkan Lin utk selalu bersandar dan percaya kepada
Tuhan. Memang Tuhan tidak pernah lalai, selalu mempunyai the best interest
for our life , dan tidak pernah Dia mengabaikan org2 yg datang kepadaNya.
Thanks again for all your ministry in the lentoflife and 5menit2ayat.
May His Name be glorified through your ministry.

God bless you and your family,
Liliana(Lielin)-Fresno
=======================================
Pdt Saud,
 
Pagi..ini Rudy. dari GII SF. just want to say "hi" dan juga baru selesai buku pendeta bukan superman. smoga pdt saud tetap tulis buku buku baru..bagus isi buku ini...buku sebelum nya yg orang kristen bertopeng juga bagus...banyak mendapat hikmat2 dan point point penting yg kadang ga pernah di singgung di kotbah umum...smoga buku ini bisa buat berkat bagi orang lain juga...sekali lagi thank you buat buku buku nya...GBU

Rudy
San Fransisco
 
============================================
 
Hallo Saumiman,
Apa kabar?
By the way, kemarin anak kami yang ketiga (Christian namanya) kirim kabar bahwa dia sedang baca buku Anda, "Pendeta-ku Seperti Superman".
Chris bilang "bagus" dan malah merekomendasi supaya papa-mamanya juga baca, dan bilang juga: 'setiap anggota majelis dan pekerja gereja musti baca'. Wah... mesti minta "komisi" dari Saumiman nih atas promosinya

Mamanya langsung pingin baca, maka saya nulis e-mail ini.
Apakah Sau punya stock-nya dan bisa tolong kirimkan ke saya?
Saya juga pingin baca buku Anda, "Di Balik Topeng Orang Percaya".
Tolong deh kirimkan sekalian ke alamat sbb:
(Sekalian dengan bill-nya. Nanti saya kirimkan uangnya,OK!)

Thanks, ya
Pdt Henky Suryantyo
Fremont, USA

===============================
 
Shalom.
 
Pak Saumiman, apa kabarnya di negri uncle sam ? Perkenalkan saya XXXXX. Saya sudah membaca buku Bapak "Pendetaku Seperti Superman". Wah, asyik banget. Saya begitu terinsiprasi membaca buku Bapak.
 
Saya pendeta Pak. Saya ditahbiskan di sebuah gereja kongregasional. Empat tahun yang lalu. Ketika itu, umur saya baru 23 tahun. Rekor pendeta termuda di lingkungan sinode gereja saya.
 
Walah Pak, gak nyangka ternyata pelayanan bueratnya minta ampun. Hampir saya putus asa dan lari dari panggilan. Maklum Pak, saya masih sangat hijau untuk memegang jemaat 150 orang. Selama itu pelayanan amburadul ! Saya kecewa dengan sistem gereja, sementa ra saya tidak bisa berbuat apa2 selain menjalani.
 
Sampai suatu saat saya ketemu denga buku Bapak "Pendetaku Seperti Superman". Wih, hebat Pak. Mbaca buku itu seolah-olah saya ada seorang teman yang ngerti saya, duduk di dekat saya dan menepuk-nepuk pundak saya sambil berkata "Tenang aja, aku ngerti apa yang kau alami. Semua mengalami kq, nggak kamu sendirian."
 
Nah, pada saat saya mbaca di bagian bab yang menegur (tolong baca: mengkritik. pedas lagi) kehidupan (kalau boleh saya katakan) miring seorang pendeta. Saya ndak sakit hati Pak ! (Meskipun Bapak nuliskan peringatan bahwa semua peristiwa yang mungkin sama dialami adalah kebetulan). Bahkan saya merasa ada seorang ayah yang sedag memarahi saya, lalu mengulurkan tangan dan bilang "Sudah ! Ayo jalan lagi ! ". Bahkan saya seperti nonton parodi atau drama satir tentang saya.
 
Maaf pak, kalau e-mail ini mengganggu kesibukan Bapak. Tapi saya hanya mau mengucapkan terimakasih atas tulisan Bapak di buku "Pendetaku Seperti Superman". Ya, kalau bapak berkenan selanjutya saya ingin share, atau sekedar curhat lewat e-mail tentanga pelayanan dengan bapak. Boleh kan Pak ?
 
Sekali lagi terimakasih atas perhatian bapak.
teriring salam dan doa. GBU
 
DXXXXXXXXXXXXXXXl
Indonesia
 
=========================================
 
 
 
Halo, Bpk Pdt Saumiman Saud
Salam kenal muse.Saya Ev.Timotius. Saat ini saya melayani di Gereja Kristen Kalam Kudus Pematangsiantar, SUMUT. Saya mengetahui nama muse pertama kali dari buku "Mengenal Dia lebih Dalam." Setelah itu, sy ikut Sidang Raya Sinode GKKK di Batu, lalu Pdt Bambang mengumumkan bhw ada "oleh-oleh" buku dari Muse Saumiman, waktu itu yg berjudul Topeng Orang Kristen dan ada satu lagi sy lupa judulnya, utk itu saya ucapkan terima kasih kpd muse. Saya senang membaca tulisan muse.Dua hari lalu sy melihat di toko buku ada buku muse yg terbit tahun ini "Pdtku Spt Superman", langsung saya "libas". Senang bisa membaca buku-buku muse.Sy juga ada buku Situs pelayanan muse.Doa saya, muse terus dipakai Tuhan memberikan inspirasi bagi orang lain
Skrg sy melayani di Komisi Pemuda dan dipercayakan sbg wakil Majelis.Doakan kami sekeluarga dan pelayanan kami, agar dapat menjadi berkat bagi jemaat dan org-org di kota Pematangsiantar.
Muse, kapan pulang ke Indonesia? Medan? Kalau mau pulang, beri info ya. Maksudnya biar bisa isi pelayanan mimbar kita di sini juga. Gmana?Ok muse, sampai di sini duu. Tuhan memberkati kita semua.
 
 
Ev. Timotius
Pematang Siantar
  

Tuesday, March 27, 2012


JIKA RAKSASA ITU HENDAK DIKALAHKAN
( 1 Samuel 17)
Rev. Saumiman Saud *)

          Apabila kita mengingat kembali peristiwa-peristiwa besar dalam Alkitab, ternyata peristiwa-peristiwa yang besar bukan terletak pada perang antar Negara atau bangsa, namun justru perang perorangan antara Daud dengan Goliat.  Sebenarnya pertempuran ini bukan pertempuran yang wajar, karena kekuatan mereka jika diukur di meja pertarungan tidaklah seimbang. Di atas kertas Goliat itu harus menang atas pertandingan ini. Mengapa? Karena tubuh Goliat itu lebih besar,  Alkitab mencatat  ukuran tubuh Goliat itu kira-kira 9 kali dan 9 inci atau 2,97 meter, jadi hampir 3 meter. Lebih tinggi dari pemain basket yang bernama  Yao Ming, karena Yau Ming tingginya hanya 2, 29 meter. Goliat bahkan sudah di beri gelar manusia raksasa.

            Namun rupanya apa yang diperkirakan manusia justru berbeda dengan kenyataan. Daud yang bahkan tidak kuat mengenakan seragam perang ini dapat mengalahkan Goliat yang penuh dengan berbagai perlengkapan perang.  Pertanyaannya mengapa demikian? Ada apa dengan sang Goliat? Apa kelebihan Daud? Mari kita lihat bagaimana Daud dapat mengalahkan si raksasa itu?         Ada banyak hal yang perlu diperhatikan bila seseorang hendak mengalahkan raksasa, namun melalui kesempatan ini kita akan coba melihat tiga cara yang dipakai oleh Daud.

1.      Daud  sadar bahwa Tuhan pernah memeliharanya

Tidak ada musuh yang tidak membahayakan, termasuk juga musuh Daud saat ini. Namun mengingat apa yang telah Tuhan perbuat di dalam sejarah hidupnya maka Daud tidak merasa gentar. Daud tidak harus merasa cemas terhadap musuh, karena sesuai pengalamannya pada masa lalu Tuhan pasti menolongnya.  Coba kita perhatikan 1 Samual 17 :34-37 ,  raja Saul sudah merasa gentar dan takut  terhadap Goliat (ay 11 ). Padahal  Saul sendiri adalah orang yang terpilih, ingat bahwa tubuhnya lebih tinggi dari seluruh bangsanya. 

Tatkala Daud mengetahui bahwa raja Saul tak berdaya, maka ia menawarkan diri untuk melawan musuh tersebut. Namun ia kurang mendapat tanggapan, karena selain Daud masih muda juga belum berpengalaman (ay 33). Lalu Daud menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai seorang gembala domba. Tatkala Singa dan Beruang menerkam dombanya, ia berdiri meyerang , menghajar dan membunuhnya. Daud tahu, bahwa semua kekuatan dan keberanian ini bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi di dalam ay 37 ia mengatakan: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Sehingga meyakinkan Saul dan ia berkata : "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

Mengingat kembali apa yang Tuhan pernah kerjakan dalam hidup kita dapat memberikan kekuatan secara khusus bagi kita. Ternyata selama ini Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Nah , kalau selama ini Tuhan telah memelihara kita begitu rupa, tentu untuk hari ini dan masa-masa mendatang Tuhan yang sama juga tidak meninggalkan kita. Kadang lucunya Tuhan justru mendatangkan kebaikan bagi kita melalui orang-orang yang sebenarnya hendak mencelakakan kita.

            Kira-kira apa yang saat ini sedang menjadi musuh terbesar dalam hidup anda?   Kesulitan mendapat pekerjaan? Persolan Keluarga? Masalah dalam perkuliahan? Sakit yang diderita tidak kunjung sembuh? Bukankah pada waktu-waktu silam Tuhan sudah memelihara engkau? Bahkan Tuhan Yesus juga telah mati untuk engkau, apalagi yang perlu ditakuti?  Ada orang bilang kematian itu merupakan ketakutan yang paling dahsyat? Namun bukankah yang lebih baik dari itu sudah kita dapatkan? Oleh sebab itu kalaupun ada bahaya yang mengancam hingga ingin merengut nyawa, kitapun tidak perlu gentar; sebab dahulu Tuhan telah menyelamatkan kita dan untuk hari ini dan masa mendatang  juga berlaku hal yang sama.

            2. Daud hanya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan

            Janji muluk-muluk dari dunia dapat mengecewakan kita, termasuk orang-orang yang dekat dengan kita. Suami, isteri, anak-anak termasuk para sahabat dekat dapat mengecewakan kita. Kita tidak dapat mengharapkan manusia sepenuhnya, karena hati mereka begitu cepat berubah. Pada waktu manusia itu  baik, maka rasanya baik sekali, namun bila terjadi benturan maka ia akan menjadi jahat sekali. Jadi  di dunia ini tidak ada yang dapat kita andalkan. Diri sendiri juga bukan andalan  (Hosea 10 :13), karena tiba saatnya juga akan hancur dan lenyap. Lalu apa lagi yang dapat kita andalkan? Senjata? Uang? Titel? Jabatan? Kesehatan? Semua itu akan lenyap dan hilang begitu saja.

            Daud sangat memahami masalah ini. Baginya pakaian perang dan segala senjatanya tidak dapat diandalkan, selain tidak biasa baginya juga sangat berat, sehingga ia tidak sanggup berjalan. Fokus utama Daud bukan kepada sang musuh, namun ia berfokus pada Tuhan. Maka satu-satunya yang perlu diandalkan hanya Tuhan.  Yeremia 17 : 7 mencatat ”Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”   Kemudian Daud mengambil tongkatnya,, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia maju mendekati orang Filistin itu.  (1 Samuel 17 :40  )

            Hari ini apa saja yang menjadi andalan di dalam kehidupan anda? Kekayaan dapat lenyap, umur dapat menjadi tua, teman bisa meninggalkan kita, pasangan hidup sifatnya sementara; satu-satunya yang paling utama adalah Tuhan, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Mari bersandar sepenuh pada Tuhan, maka Ia akan memberikan pertolongan pada kita.

2.      Daud mengambil inisiatif beregerak maju

Dalam kondisi yang genting ini, Daud tidak pernah merasa gentar; karena Ia tahu Tuhan bersamanya, dan ini merupakan modal utamanya. Dalam 1 Samuel 17:38-39 terlihat nyata bahwa Daud bukan berdiam diri tetapi ia bergerak maju, walaupun musuh menyerang. Daud memenangkan pertandingan akbar ini, karena Daud tahu untuk mencapai keberhasilan maka  kita tidak boleh berdiam diri. Maju terus dan dan pantang menyerah.

Sewaktu saya masih tinggal di Kampus Seminari , Malang , teman saya pernah bercerita suatu pengalaman yang unik. Di Asrama sekolah dipelihara dua ekor anjing yang cukup galak. Jadi kalau malam hari setelah jam 23.00 anjing itu bakal dilepaskan hingga besok pagi kira-kira jam 05.30 baru anjing tersebut dimasukkan ke dalam kandang. Seorang teman seangkatan yang biasanya olah-raga pagi kali ini cukup kelabakan karena ia dikejar oleh anjing tersebut. Di tengah-tengah kepanikan itu, apalagi tatkala ia tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba ian menjadi nekad. Ia membalikkan dirinya dan  mengejar anjing itu; ternyata  anjing itu yang melarikan diri.  

Bila ketakutan datang menyerang, kita tidak boleh tinggal diam, kadang kita juga perlu mengambil “sikap menyerang balik”. Kata ‘sikap menyerang balik” sengaja dipasang tanda petik  maksudnya serangan baliknya itu bukan dalam arti balas dendam, namun justru melakukan yang terbaik. Dalam konteks ini Daud telah melakukan yang “terbaik” karena dengan demikian ia telah meyelamatkan bangsanya.

Sebuat artikel yang menarik disajikan oleh majalah Fortune mengenai sebuah perusahaan kecil yang berhasil mengalahkan jaringan kedai kopi raksasa Sturbucks. “Saya hanya punya dua pilihan, melakukan hal yang radikal atau dengan terpaksa menutup usaha saya,” kata pengusaha Mike Sheldrake yang tokonya sedang mengalami ancaman. Usahanya telah berjalan 22 tahun, Polly’s Gourmet Coffee di long Beach, California. Dengan dibukanya toko Starbucks yang hanya berjarak sembilan blok, menyebabkan pendapatan per-tahun Sheldrake yang bernilai $1 juta mengalami penurunan lebih dari 5% setiap bulannya. Akibatnya dalam setahun pandapatannya turun hingga bernilai $800.000

Tidak lama kemudian, toko Starbucks lainnya dibuka lagi, kali ini jaraknya kurang dari 100 meter. Sebenarnya Sheldrake dapat saja menutup usahanya dan pindah tempat, namun seperti tokoh dalam Alkitab ini, Sheldrake memutuskan untuk bertarung.  Sheldrake menggunakan pendekatan yang tepat sasaran yakni dengan beranologi pada 5 batu licin” yang diwujudnyatakan dalam bentuk memperbaharui penampilan toko, traning kembali para pegawai, insentif kerja pegawai dinaikkan, mulai menjual biji kopi hangat yang disajikan langsung dari pemanggang. Dan  yang kelima teknik yang paling jitu dan ampuh yakni pemanggangnya yang dibuat tahun 1929 diletakkan di tengah-tengah toko untuk menarik perhatian orang. Bersama dengan tekad dan komitmen untuk melakukan pelayanan yang lebih baik akhirnya tim Sheldrake ini dapat mempertahankan eksistensi toko tersebut, walaupun sebenarnya mereka sedang menghadapi toko kopi raksasa Starbucks.
             
            Jika raksasa dalam hidup anda hendak disingkirkan , maka kita perlu ingat bahwa kasih Tuhan begitu luar biasa pernah terjadi dalam hidup kita, kita juga harus mengandalkan Tuhan saja, bukan pada manusia atau materi dan yang paling penting kita jangan berdiam diri, namun kita harus bergerak maju dan pantang menyerah. ( San Jose , 25 Juli 2007,  11:39 pm)

*) Penulis adalah alumni Seminari Alkitab Asia Tenggra Malang (SAAT) melayani di San JoseCalifornia, dapat dihubungi via emailsaumiman@gmail.com  atau kunjungi situs pribadinya http://www.saumimansaud.org


JIKA DOA KITA TIDAK DIKABULKAN
(Matius  7 : 7a -11) 
Tuhan itu baik, namun mengapa Ia tidak mengabulkan setiap permohonan doa kita? Apakah Ia masih berkuasa di singgah sana? Salah satu konsep yang salah dari kita adalah selalu mengklaim janji Tuhan. Kita sudah berdoa, dan doa kita ini dengan sungguh-sungguh. Kadang dibarengi dengan puasa, berlutut dan cucuran air mata. Namun mengapa Tuhan tetap diam? Bukankah Alkitab mencatat mintalah maka akan diberikan kepadamu? Apakah rasul Matius salah mencatatnya? Apakah Tuhan mengingkari janji-Nya? Apakah Ia bohong? Rasanya tidak mungkin? Tetapi mengapa semua ini nyata terjadi? Ada tiga hal yang bagi saya cukup penting, tatkala doa kita tidak dikabulkan? Dengan demikian kita bukan menjadi anak Tuhan yang selalu mempersalahkan Tuhan. 
1.      Jika Doa kita tidak dikabulkan Tuhan, bukan karena Dia Lalai 
Kadang kita ragu, kita berpikir bahwa Tuhan itu tidak sanggup, karena doa kita tidak dikabulkan. Kita juga menganggap Tuhan itu seperti kita yang bisa keliru, yang bisa lalai. Namun sebenarnya kita sendiri perlu pengoreksian diri secara mendetail. Siapa diri kita saat ini sebenarnya? Mengapa Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita? Ada apa dengan kehidupan kita? Apakah permintaan kita itu berguna? Apakah permintaan kita itu menjadi berkat bagi orang lain? 
Yohanes 15 : 17 mencatat, “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan Firman Ku tinggal di dalam bersama Kristus, mintalah apa saja yang kamu kehendaki” Saya yakin ada banyak orang yang percaya akan ayat ini? Mintalah apa yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya, apakah hal ini salah? Tentu tidak bukan. Tetapi kita perlu perhatikan baik-baik, bahwa firman Tuhan berkata“ Jika kamu tinggal di dalam Aku” Sehingga di dalam doa-doa kita hal ini merupakan syarat utamanya.  
1 Yohanes 5 :14 mencatat “ Ia mengabulkan doa kita jika meminta sesuatu menurut kehendak-Nya”  Persoalannya bukan Tuhan itu lalai. Namun lebih dari itu kemungkinan segala permintaan kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bagimana bisa sesuai dengan kehendak Tuhan? Tentu kita perlu tahu apa yang dikehendak-Nya? Sepertinya bolak-balik kalimat ini, namun bagaimana mengetahu kehendak-Nya? Untuk mengetahui kehendak-Nya kita perlu mebaca sabda-Nya, bergaul dengan-Nya, memahami sifat-Nya dan mencarai tahu apa yang tidak disukai-Nya. 
Seorang teman bercerita pada saya begini, dia mencoba untuk mengevaluasi kehidupan masa lalunya. Ia pernah memiliki konsep yang salah pada Tuhan dan ia merasa sangat kecewa sekali pada-Nya. Ia sudah berdoa dengan sungguh untuk berdampingan dengan pacarnya. Namun tiba-tiba karena campur tangan pihak orang tua, ia harus berpisah dengan sang pacar. Kemudian sang pacar menikah dengan pria kesukaan orang tuanya yang kaya raya.. Semenatara ia dengan segala kekecewaaan terus bertahan dan berjuang sekolah hingga mendapatkan gelar master di Amerika dan saat ini ia mendapatkan perkerjaan yang mantap dengan gaji dan posisi yang baik. Mengenang semua itu, ia melihat ada sebuah benang merah kasih Tuhan baginya, seandainya ia memaksa permintaannya kepada Tuhan dan menikah saat itu, mungkin saja kuliahnya berantakan dan saat ini entah apa jadinya. Namun ia sadar bahwa Tuhan itu baik, Ia justru tidak mengabulkan doa-doanya, dan ternyata Tuhan tahu yang terbaik buat dirinya. Hari ini ia bisa tinggal di Amerika, dengan menamatkan sekolahnya, mendapatkan pekerjaan yang baik, sudah punya pacar yang baik, cantik dan cinta Tuhan serta sebentar lagi akan menikah. 2 Petrus 3 :9 “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada ornag yang menganggap-Nya sebagai kelalaian. Tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menmghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua ornag berbaik dan bertobat” 
2. Jika doa kita tidak dikabulkan Tuhan , bukan berarti Dia  Menyusahkan kita 
Tuhan tidak pernah menyusahkan anak-anak-Nya. Ia seperti seorang bapa yang selalu memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Tatkala ayah atau ibu kita hendak mengajarkan kita yang baik, ia kadang rela membiarkan kita mengalami keadaan yang tidak enak dan susah, tujuan utamanya bukan menyusahkan kita, tetapi justru untuk kebaikan untuk kita. Contohnya, jika orang tua ingin kita sembuh dari sakit penyekit, ia harus rela kita disuntik oleh dokter. 
Sabtu lalu 4 Agustus 2007 saya diajak pemuda di gereja untuk berwisata ke San Francisco melewati Jembatan Golden Gate menuju Sausalito kurang lebih 13 Km dengan naik sepeda. Sejenak saya tersentak kaget, karena sejak tamat SMA tahun 1982 saya tidak pernah naik sepeda lagi, kalau dihitung-hitung sudah 25 tahun (gila, seperempat abad, cepat sekali waktu berlalu). Itu sebabnya hati saya berdebar  dag dig dug, tatkala mencobai sepeda tersebut. Puji Tuhan ternyata saya masih bisa. Saya jadi teringat  sewaktu pertama kali bekajar naik sepeda, waktu itu dimulai dengan memakai sepeda beroda tiga. Kemudian dilanjutkan dengan orang tua yang memegangnya dari belakang supaya saya tidak jatuh, namun tetap saja tidak bisa naik sepeda itu. Untuk itu maka suatu hari, orang tua saya membiarkan saya belajar naik sepeda itu sendiri. Coba dan coba lagi, kadang jatuh, terpelanting, luka dan lecet. Namun ia tetap mebiarkan saya latihan sendiri, hingga saya bisa naik sepeda.  Mereka bukan menyakiti saya, namun merkla ingin saya bisa naik sepeda. 
Semua doa kita yang belum dan tidak dikabulkan tujuannya agar melatih supya kita tidak bosan-bosannya meminta kepada-Nya. Namun ingat jangan sampai kita memaksa Tuhan, sebab meminta itu bukan memaksa, kita perlu membedakannya. Kadang dengan menunda dan tidak mengabulkan doa, Tuhan ingin memperjelas kehendak-Nya. Kita boleh saja berulang-ulang meminta hingga suatu saat kita merasa tidak perlu lagi apa yang kita minta, nah pada saat itulah kita baru ketahui apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita ini. 
Tidak salah bila seorang pemuda jatuh hati pada seorang pemudi, lalu di dalam doanya ia meminta agar Tuhan boleh memberikan pemudi tersebut sebagai pacarnya. Namun sejalan dengan itu ternyata respon sang pemudi dingin saja, bahkan tidak ada tanda-tanda yang berarti untuk dijadikan pacar. Sang pemuda begitu tertarik dengan kecantikan dan kelembutan serta keramahan sang pemudi; tetap saja merasa tidak tenang kalau tidak mendapatkan pemudi itu. Itu sebabnya sekali lagi ia meminta pada Tuhan,  hingga suatu hari sang pemuda itu bertemu sang pemudi di sebuah Mall sedang bergandengan-tangan dengan kekasihnya. Mulai hari itu hatinya merasa begitu terpukul, namun karena ia seorang pemuda Kristen yang dewasa maka ia berusaha tetap tenang, dan menyerahkan pada Tuhan. Akhirnya diapun mengganti permohonan donya supaya terbuka jalan untuk menyunting pemudi yang lain. 
Tuhan tidak akan dan tidak pernah menyusahkan kita, tetapi kesusahan dan kesulitan yang kita alami atas seijin dan pemantauan-Nya, asalkan dijalani dengan  tetap setia dan patuh pada-Nya, maka hasil akhirnya pastilah suatu kebahagiaan dan kesukacitaan. 
3.      Jika Tuhan tidak mengabulkan Doa bukan berarti Dia mengabaikan kita 
Tuhan juga tidak pernah mengabaikan kita, justru Ia sangat jeli memperhatikan kita. Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan itu menjaga kita siang dan malam, Ia seperti seorang penjaga malam (Mazmur 121). Ia juga seperti gembala yang baik, yang selalu memelihara dan menjaga domba-dombanya (Mazmur 23). Itu sebabnya, kita bersalah bila mengatakan bahwa Tuhan itu mengabaikan kita. 
Lalu mengapa doa kita tidak dikabulkan?  Bukankah ini merupakan tanda-tanda pengabaian? Jika kita mengakui bahwa Tuhan itu baik dan maha tahu, tentu Ia juga mengetahui segala kebutuhan kita. Ia juga tahu apa yang baik dan buruk untuk kita. Makanya kita tidak perlu komplain terhadap apa saja yang diberikan Tuhan. Kadang apa yang kita pikirkan baik, belum tentu baik bagi Tuhan. Makanya kita perlu sabar mepelajari kehendak Tuhan yang sesungguhnya. Caranya adalah berdoa yang tidak jemu, membaca firman-Nya dan dengarkan pengalaman kesaksian orang-orang yang telah mengalami kasih Tuhan. 
Saya pernah membaca tentang soorang ibu tua pedagang tempe di Bandung pernah bersaksi. Hari itu seperti biasanya ia hendak menjual tempe di pasar, namun ia kaget sekali karena tempe yang dibikinnya itu belum masak, artinya belum waktunya untuk dijual. Oleh karena itu ia berangkat ke pasar dengan setengah hati, karena tempenya bakal tidak dibeli orang. Pagi itu juga ia berdoa agar Tuhan segera membuat tempenya masak, namun selesai berdoa ia melihat tempenya tetap saja belum masak. Ia sedih sekali, hingga siang hari kebanyakan pedagang tempe sudah pulang, tempenya masih belum ada yang beli karena belum masak. Ia berdoa lagi supaya Tuhan menyatakan kuasa-Nya, namun ia kecewa karena tetap saja tempe tersebut tidak masak,. Hingga sore harinya tiba-tiba ada seorang ibu bertanya ke sana-sini, sebab beliau hendak membeli dalam jumlah banyak tempe yang setengah masak untuk di bawa ke Surabaya.  Si penjual tempe juga kaget, sebab tidak pernah ada orang yang membeli tempe setengah masak. Itu sebabnya ia segera berdoa pada Tuhan lagi, kali ini dia berdoa agar Tuhan tidak perlu lagi membuat tempenya masak.  Doa yang yang tidak terkabul bukan berarti Ia mengabaikan kita, tetapi justru ada maksud Tuhan yang lebih indah.
Jangankan doa kita, doa Tuhan Yesus saja juga tidak terkabul. “Jika Engkau berkenan, biarlah cawan ini berlalu dari pada-KU”, kenyataannya Tuhan Yesus tetap meneguk cawan pahit, artinya Ia tetap harus menderita hingga mati di atas kayu salib. Demikian juga rasul Paulus, ia mengidap satu penyakit, ia juga pernah berdoa pada Tuhan agar disembuhkan, namun Tuhan memandang bahwa penyakitnya bukan penghalang, tetapi justru dengan penyakit tersebut membuat rasul Paulus sadar bahwa ia manusia biasa yang kuasanya tidak melebihi Tuhan. 
            Doa yang tidak terkabul tidak harus membuat kita meninggalkan Tuhan, tetapi justru karena doa kita tidak terkabul maka kita harus lebih berusaha untuk belajar sebenarnya apa yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan. Jika kita sebagai orang percaya menyadari ini, saya yakin kehidupan doa-doa kita akan lebih dewasa. Matius 7 : 11 mencatat Tuhan memberikan yang baik”, jadi bagi saya jika memang doa kita tidak terkabul, itulah jawaban doa kita yang sesungguhnya yakni “tidak terkabul” , justru itu merupakan pemberian yang terbaik dari Tuhan. 

JIKA ANDA MERASA SAKIT HATI

Seandainya kita tidak mempunyai perasaan lagi atau kebal, maka apapun yang dilakukan orang terhadap kita tentu responnya biasa saja. Namun karena kita manusia yang normal, oleh sebab itu bila ada sikap seseorang yang kelewatan (kebangetan)  terhadap kita maka kita akan merasa sakit hati.

Sakit hati itu adalah sikap yang wajar dan dapat muncul secara mendadak, biasanya karena ulah dan tingkah laku orang lain terhadap kita atau sebaliknya. Berbagai sebab yang mengakibatkan kita sakit hati, antara lain karena kita merasa tidak dihargai, kita merasa dikesampingkan atau diremehkan, dihina serta hendak dihancurkan. Sakit hati itu dapat timbul tanpa harus kita disakiti atau dilukai, kita tidak harus dipukul juga. Namun dari sikap dan perlakukan serta kata-kata yang disampaikan dengan cara menyindir dan kritik dapat membuat kita merasa sakit hati. Sakit hati itu akan lebih cepat terasa lagi bila yang memperlakukannya itu adalah orang-orang yang kita atau pernah kasihi.

Orang yang sakit hati tentu akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidur  tidak nyenyak dan makan tidak enak. Pemazmur mengatakan di dalam Maz 31: 9-10 “orang yang sakit hati akan merasa sangat susah dan merana”  Sakit hati juga dapat merampas suka-cita dan selera hidup kita, dengan demikian orang yang sedang sakit hati akan terlihat diwajahnya selalu cemberut dan hidupnya menderita dan pekerjaannya agak berantakan. Oleh sebab itu jika kita coba mengkaji ulang, sebenarnya kita akan merasa sangat rugi jika kita harus mengalami sakit hati, sementara orang yang menyakiti kita itu tidak tahu-menahu atau bahkan saat ini sedang bersenang-senang dan berpesta pora.

Konon cerita ada dua orang sahabat karib yang sedang mengembara. Mereka berjalan menuju ke padang belantara, masuk hutan keluar hutan, masuk desa keluar desa. Suatu hari kedua sahabat itu bertengkar, dan akhirnya terjadi perkelahian. Salah seorang tiba-tiba menempeleng wajah sahabatnya. Sahabat yang ditempeleng itu tidak membalasnya, namun ia merasa sakit hati. Lalu ia menulis tulisan di atas pasir, bunyinya demikian “ Hari ini sahabat baikku menempeleng aku” , setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Di tengah perjalanan karena sengat terik matahari membuat mereka haus dan lapar. Itu sebabnya mereka berhenti di tepi sungai untuk menyantap makanan. Tatkala sahahat yang ditempeleng itu pergi ke sungai mengambil air, tiba-tiba ia terpeleset ke dalam sungai dan ia tidak bisa berenang. Ia menjerit minta tolong, dan sahabatnya dengan sigap dan cekatan terjun ke sungai menolong dan menyelamatkannya dari maut. Setelah siuman, ia menulis lagi tulisan di atas sebuah batu , bunyinya demikain “Hari ini sahabatku yang baik menyelamatkan aku”

Si sahabat yang tadinya menempeleng dan menyelamatkan ini bertanya-tanya, kenapa sahabatnya tadi menulis di atas pasir, sekarang menulisnya di atas batu? Kemudian sahabat itu menjawab demikian “ Jika ada orang yang menyakitimu, cukuplah kita tulis di atas pasir saja, sebab sebentar akan datang angin kencang, hujan deras  dan ombak air melenyapkan tulisan itu, sehingga engkau segera melupakannya. Namun jika ada orang berbuat baik kepadamu, tulislah di atas batu, supaya kalau ada angin kencang hujan dan badai menerpa, tulisannya tidak pernah akan hilang dan kamu akan ingat selalu kebaikannya”

Pelajaran ini sangat berharga bagi kita yang sedang sakit hati, biarlah kita tulis di atas pasir, supaya semua itu cepat dihanyutkan dan hilang, dengan demikian kita segera melupakannya. Namun maslahnya badai itu tidak sering datang, dan gempa juga muncul sekali-kali, bahkan tatkala gempa di Jakarta baru-baru ini banyak orang yang tidak mengetahuinya. Tetapi sesulit apapun juga, marilah kita fokus untuk lebih utama mengingat kebaikan orang lain, jangan selalu ingat kejahatannya, sehingga kita tidak perlu merasa sakit hati. Hidup kita ini singkat, semestinya kita maju terus, karena hari-hari berjalan tanpa berhenti, namun jika kita mandek hanya karena “sakit hati” akibat ulah ornag-orang yang tidak berguna, maka kita sendiri yang menjadi korban.

Memang tidak gampang melupakan peristiwa yang meyakitkan, apalagi hal itu dilakukan oleh sekelompok orang-orang yang kita pernah kasihi dan hendak mencelakakan kita serta menghancurkan masa depan kita. Daud sendiri pernah mengalaminya, bayangkan saja anak kesayangannya Absalom berontak dan hendak mengkudetanya (lihat 2 Samual 15 : 1-15)  . Saya yakin secara manusia ia merasa sakit hati, namun Daud tidak menaruh dendam ataupun pembalasan terhadap anaknya.  Inilah perintah Daud kepada seluruh anak buahnya  "Demi aku, bersikaplah lunak terhadap Absalom yang masih muda itu." Dan seluruh pasukan mendengar ketika raja memberi perintah itu kepada semua kepala pasukannya (2 Samual 18 :5). Demikian juga tokoh Tuhan Yesus, sebenarnya Ia berhak sakit hati, karena ia dicambuk, dicemooh, ditampar, dipukul dan sebagainya, bahkan murid-Nya sendiri mengkhianati-Nya. Namun apa yang dilakukan Tuhan Yesus, Ia justru mengatakan kepada Allah supaya mengampuni semua orang-ornag yang menyakitinya. Luar biasa bukan!

Dalam sebuah talk show yang digelar di sebuah radio swasta di Jakarta yang ditulis kembali oleh Amelia Devina dalam, blognya, beliau menulis bahwa Antonio Dio Martin seorang pakar EQ di Indonesia mengatakan bahwa “orang lain itu bisa menyakiti kita hanya kalau mendapat ijin dari kita. Apapun sikap dan perlakukan orang sebenarnya hanya sebatas perkataan belaka sampai kita sendiri memaknainya. Sering kali kita merasa sakit hati atas perkataan orang lain, namun justru dengan perkataannya itu sebenarnya merupakan suatu peringatan awal supaya kita tidak melakukan hal yang salah. Jadi menghadapi masalah seperti ini kita semestinya membangun harga diri supaya kita tidak merasa sakit hati, dan kalaupun itu terjadi kita berusaha tidak membalas dengan hal-hal yang merugikan atau mencelakakan orang lain. Kemenangan itu sudah ada di tangan terlebih dahulu bila kita membalas perlakukan jahat dengan kebaikan. Hal yang lain adalah, apa yang diucapkan orang lain mestinya merupakan suatu refleksi singkat dalam kehidupan kita, supaya kita memiliki kesempatan belajar menjadi manusia yang yang lebih baik. Kalaupun motivasi dan tujuannya hendak menghancurkan kita, maka berdasarkan pengalaman hidup kita akan lebih baik jika kita tidak membalasnya. Tokoh Musa mengalami pengalaman kemenangan dalam hal ini, tatkala ia dikata-katai oleh Miriam dan Harun, ia tidak membalasnya. Saya yakin sebagai manusia yang normal dan berperasaan pada waktu itu Musa pasti merasa sakit hati. Namun satu kemenangan hidup yang dapat kita lihat di sini adalah hingga Miriam  dihukum Tuhan dengan penyakit kustapun Musa tetap berdoa agar ia disembuhkan. Musa tidak membalas sakit hatinya, namun Tuhan sendiri yang menyatakan pembalasan.

Sudah waktunya hidup kita bebas dari rasa sakit hati, walaupun kemungkinan besar bekas-bekas luka itu masih ada; namun yang penting kita sudah sembuh. Jangan biarkan lingkungan atau orang-orang sekitar merampas kesukacitaan dan semangat hidup kita.  
Berikut ini ada tips mengobati sakit hati yang saya kutip dari Harian Kompas 6 Desember 2004, isinya antara lain: jika kita merasa sakit hati biarlah kita coba singkirkan perasaan yang tidak menyenangkan itu, tetapi pikirkan keberhasilan kita. Selanjutnya pergilah ke tempat yang menyenangkan dan temui sahabat karib yang bersedia mendengar unek-unek kita. Bila ada hal yang tetap mengganjal lalukanlah secara monolog misalnya, dengan menulis buku harian, namun jangan salah sangka, bukan menulis tulisan seperti ini. Bila persoalan itu begitu menekan dan harus menangis, maka menangislah hingga rasa sakit hati itu mereda. Pada saat itu kita coba mengingat kembali kebaikan orang yang menyakiti kita, karena sejahat-jahatnya seseorang pasti ada kebaikannya. Pelan-pelan mencoba melupakan, saya tambahkan minta pertolongan Tuhan untuk melupakannya. Tanyakan pada diri sendiri apakah dalam kondisi netral tatkala kita menilai apa yang diperbuat orang lain?  Selamat tinggal sakit hati.


JIKA ANDA TETAP SETIA
(Ulangan 7 : 1-11, Yesaya 46 :4)

Kehidupan manusia di dunia ini penuh dengan janji, selama janji yang telah kita sepakati tidak pernah dilanggar maka semua proses kehidupan ini akan berjalan dengan lancar. Namun siapa yang dapat seratus persen percaya pada manusia, sebab manusia terlalu suka dan gampang mengingkari janji. Janji setia pernikahan yang diucapkan di depan altar Tuhan dilanggar. Para pedagang melanggar janji dengan partner dagangnya, akibatnya timbul penipuan, pecah kongsi dan sebagainya Mengingkari janji itu sangat menyakitkan hati, sahabat yang baik dapat menjadi musuh bebuyutan, suami isteri akan bercerai.  Inilah yang kita sebut dengan ketidaksetiaan.

Lalu bagaimana supaya kita dapat mencapai kesetiaan? Tentunya kita harus belajar pada yang maha Setia. Bacaan Alkitab yang kita lihat melalui Ulangan 7 : 1-11 tadi mengajarkan tiga hal mengapa kita harus setia kepada Tuhan

  1. Kita harus setia kepada Tuhan, karena godaan dunia bertubi-tubi (ayat 4)

Kita harus setia, itu kunci utamanya, namun Tuhan itu setia kepada kita bukan karena kesetiaan kita. Jadi apa maksudnya ini? Tuhan itu setia, karena memang sifat dan karakternya adalah setia. Dalam 2 Timotius 2 :13 dituliskan bahwa “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” Di dalam kesetiaan perlu adanya ketaatan. Coba perhatikan baik-baik Ulangan 7 : 1-5 yang kita baca, konteks ini membicarakan tentang orang Israel yang pada waktu itu masih berada di tanah Mesir. Di sana mereka diperbudak, diperlakukan dengan tidak baik dan penuh dengan berbagai tekanan. Mungkin karena sudah berjalan cukup lama, kondisi ini menjadi biasa. Mereka seakan-akan merasa sudah enak dan menikmati keadaan ini., padahal semenjak Abraham pertama kali dipanggil Tuhan untuk keluar dari Tanah Us , Kasdim; tujuannya adalah agar dia pergi ke tempat yang dijanjikan yakni Tanah Perjanjian. Oleh karena itu dari awal Tuhan memberikan peringatan kepada umat Israel.

 Lihat lagi  Ulangan 7 : 1 dan seterusnya; Apabila Tuhan Allah-mu telah membawa engkau ke dalam negeri ke mana engkau masuk; dilanjutkan apabila Tuhan Allah telah menyerahkan  segalanya kepada umat Israel, maka ada nasihat penting yang haruis mereka turuti yakni mereka tideka boleh mengadakan perjanjian dan tidak boleh mengasihani mereka”  Peringatan ini seakan-akan sangat kejam dan tidak manusiawi. Namun kalau kita coba melanjutkan membaca , secara khusus ayat 4 “ Sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beriobadah kepada allah lain. Maka murka Tuhan akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engaku dengan segera”

Kehidupan orang percaya itu di jaman modern ini juga demikian. Kadang Tuhan sudah memberikan segala sesuatu  kepada kita, doa kita sudah terjawab semuanya. Mulai dari masalah kuliah, pekerjaan , keluarga dan pelayanan. Namun kita perlu waspada, karena bisa saja berkat-berkat itu menguasai kehidupan kita. Sewaktu belum punya pacar, berdoanya giat, pada saat sudah punya pacar sibuk ngurusin pacar; Tuhanpun dilupakan. Pada waktu belum bekerja kita berdoa mati-matian agar Tuhan memberikan pekerjaan, namun sesudah bekerja mapan, keadaan dan keuangan sudah stabil maka dengan alasan sibuk dengan pekerjaan maka segala tugas pelayanan dan juga keterlibatan untuk bekerja bagi Tuhan dikurangi bahkan tidak waktu lagi untuk melakukannya. Ada banyak contoh lain yang bisa kita uraikan di sini.

John Wesley pendiri gereja Methodist pernah mengatakan bahwa, pada waktu ia sibuk, maka ia mengambil waktu tiga jam untuk berdoa; namun apabila pada saat ia sibuk sekali maka ia memerlukan enam jam berdoa . Bagaimana dengan anda dan saya? Sering kali yang kita lakukan pada waktu  sibuk adalah tidak ada waktu lagi bagi Tuhan, dan pada saat kita sibuk sekali, maka sayonara (selamat tinggal)  Tuhan. Mari, biarlah kita belajar agar kuta boleh lebih setia pada Tuhan.

  1. Kita harus setia pada Tuhan, karena kita ini orang pilihan Tuhan.

            Ayat 7 mencatat, “bukan karena jumlah kita lebih banyak sehingga membuat hati Tuhan terpikiat, bukan juga karena kita paling kecil dari segala bangsa sehingga membuat Tuhan berbelas kasihan.  Tetapi Tuhan itu mengasihi kita karena kesetiaan-Nya yang tidak pernah ingkar janji.  Janji manusia dapat batal, kadang karena kondisi, waktu, cuaca, keamanan dapat membuat kita tidak menepati janji. Minggu sore yang lalu semestinya saya ada janji dengan bertemu seorang teman lama, namun kenyataannya sang teman tidak menepati janji. Janjinya batal dan tidak ketemu, ini janji dari manusia.

Tuhan kita tidak demikian, Dia memegang sepenuh hati janji-Nya. Ia tidak pernah mengingkari janji. Ayat 9 mencatat bahwa Ia setia kepada orang-orang yang kasih kepada-Nya sampai beribu-ribu keturunan. Namun terhadap orang yang membenci-Nya, ada peringatan bahkan ada sanksi khusus yang akan diberikan.

Mungkin anda berkata bahwa anda sudah sungguh-sungguh setia kepada Tuhan? Buktinya setiap minggu anda tidak  pernah absen ke gereja? Perpuluhan tetap dibayar setiap bulan, bila tidak percaya boleh tanya pada bendahara gereja Terlibat juga dalam pelayanan, misalnya koor, Bible Study, dan-sebaginya. Semua itu telah anda ikuti dan jalani dengan penuh setia. Apakah semua ini menunjukkan bahwa anda sudah setia?

Mari coba kita evaluasi melalui ilustrasi berikut ini.  Konon cerita suatu hari minggu tatkala anak-anak Tuhan sedang memuji Tuhan di sebuah gereja, lalu iblis datang bertemu dengan Tuhan dan terjadilah obrolan mereeka.. Tuhan berkata hai iblis kenapa kamu datang dengan tertawa mengenyek , bukankah anak-anak-Ku itu sedang memuji nama Ku?  Lalu iblis berkata demikian, benar Tuhan mereka memuji nama-Mu, tetapi itu hanya waktu yang sisa saja, lihat hanya dua jam dalam seminggu merka datang kepada-Mu, sisanya mereka mengikuti aku. Kadang mereka memberi-Mu uang yang disebut persembahan, namun bukankah Engkau memiliki segalnya dan tidak memerlukan  uang mereka? Kadang mereka memberikan waktu saat teduh pada pagi hari, namun sering kali karena kesibukan kerja mereka juga tidak sempat melakukannya? Apakah ini yang disebut kesetiaan?

Dari “obrolan” singkat ini kita dapat menarik pelajaran yang berharga sekali. Tatkala kita mengatakan bahwa kita telah setia pada Tuhan, permisi tanya seberapa kesetiaan itu? Ingatlah, bukan segala tingkah laku dan perbuatan kita yang kelihatan itu yang bisa dihitung sebagai kesetiaan, maka sesungguhnya yang paling penting adalah hati kita.

  1. Kita harus setia, karena Tuhan itu setia

Coba kita kembali mengevaluasi kehidupan kita. Pernbahkah terjadi disepanjang kehidupan kita ini terdapat  momen di mana Tuhan itu tidak setia kepada kita?  Jika hari ini kita boleh menikmati hidup itu juga menunjukkan kesetiaan-Nya.  Walaupun secara manusia untuk mencapai dan menjalani kesetiaan-nya kita seakan-akan berhadapan dengan hal-hal yang tidak pasti.

Apabila kita melamar kerja di sebuah perusahaan, tentu kita hendak mencari perusahaan yang mantap, jelas masa depannya dan ada prospek yang baik. Coba bila seorang direktur atau manager sedang wawancara terhadap anda, lalu beliau bertanya, nama anda, dan kita menjawabnya Saumiman Saud, lalu alamat, dan kita jawab Campbell City, San Jose, kemudian ditanya lagi  tentang  pendidikan kita. Dan sebagainya. Setelah itu sang direktur mengatakan, selamat datang, selamat bergabung dengan perusahaan ini. Besok pagi anda segera masuk kantor dan bekerja.

Lalu kita bertanya, di mana alamat kantornya? Sang Direktur berkata , tidak ada kantor? Lalu , gaji kita akan dibayar berapa, maka kita terima jawaban dari bos “tidak janji”. Lalu fasilitasnya apa saja? Tidak ada juga. Mendengar jawaban seperti itu saya percaya kita akan segera mengambil langkah balik kanan, dan pulang tanpa pernah menoleh-noleh lagi ke belakang. Mengapa? Karena perusahaan yang ada janji saja dapat dibatalkan, apalagi tidak ada janji, mengerikan sekali bukan?

Kalau kita percaya Tuhan itu setia dengan janji-Nya, maka kita akan pegang janji-Nya itu. Walaupun tidak secara jelas dan konkrit ditunjukan keadaan masa depan kita. Di San Fransico ada seorang pemudi anggota gereja kami yang sudah cukup lama juga tinggal di Amerika, kulaih dansaat ini sudah kerja. Boleh dibilang kerjanya sudah cukup mapan, dan sudah menerima Permanent Resident. Bulan lalu dalam sebuah pertemuan kecil beliau katakan bahwa dua tiga bulan ke depan ini ia segera akan tinggalkan pekerjaannya, Karena dia rencana untuk bergabung dengan sebuah lembaga misi untuk pergi melayani di Papua , Indonesia. Mendengar itu kira-kitra apa respon anda? Bagi anda yang kerjanya di Akuntan akan bilang, rugi besar nich secara matematika? Percuma bayar uang kulaih mahal-mahal, sekolah mati-matianl, lalu kehidupan di sini sudah okey semuanya, kenapa harus pergi ke Papua lagi? Namun pemudi ini telah mengambil tekad ini dan saya sangat menghargai dan salut terhadap ornag-orang model begini. Saya percaya bahwa ia pastri percaya pada Tuhan yang penuh setia itu.  Roma 8 : 28 mencatat “ Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi meerka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”

Mungkin anda pernah membaca karangan yang berjudul Footprint (terjemahan Indonesianya Jejak Kaki). Coba kita lihat sedikit latar belakang mengapa tulisan ini bisa terjadi. Footprint ini dikarang oleh Margareth Fishback, ia sejak kecil tinggal di Canada. Ayahnya orang Jerman, itu sebabnya maka logat bahasa Inggris yang diucapkannnya ada dialek Jermannya. Waktu kecil ia mengalami trauma dan pengalaman pahit tersendiri, karena guru-guru di sekolah suka memukulnya, terutama tatkala ia mengucapkan kata-kata bahasa Inggris berdialek Jerman ini. Ia tidak mengerti mengapa demikian, hingga sampai dia duduk di Sekolah Menengah baru ia tahu bahwa pada waktu itu sedang terjadi perang Dunia ke dua, jadi orang Canada dan Amerika sangat benci pada orang Jerman.  Ia juga pernah merasa trauma berat tatkala bermain-main dengan teman-teman wanitannya, karena mereka pernah menggelitiknya hingga hampir pinsan.. Pada masa dewasa ia menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar, tatkala ia sedang mengajar, tiba-tiba angin kencang menerpa dan petir meyambar tepat pada dirinya, ia pinsan tidak sadarkan diri dan di rawat di rumah sakit beberapa hari. Pada saat itu ia mengenang akan Tuhan dan kasih-setia-Nya .

 Semua kejadian ini turut mengambil bagian dan mewarnai dia dalam penulisan puisinya. Pada suatu hari, tatkala ia akan memimpim sebuah retreat, maka bersama tunangannya Paul ia berangkat menuju  ke sana. Namun di tengah perjalanan mereka melewati sebuah danau dengan pemandangan yang cukup indah. Di tepi danau itu mereka berdua turun sejenak, kemudian sambil bergandengan tangan mereka  berjalan di tepi pantai. Tatkala ombak kecil menerjang pantai, maka bekas jejak kakinya tersiram dan hilang. Berkali-kali ia melihat kejadian ini, bahkan tatkala tunangannya menggendongnya, ia hanya melihat sepasang jejak kaki saja. Pada saat itulah ia mengingat apa yang ditulis dalam Yesaya 46 :4  , Tuhan itu setia sampai pada masa putih rambut kita, artinya sampai selama-lamanya ia tetap setia.

 Di bawah ini puisi yang ditulis oleh Margareth Fisback,

-Jejak - Jejak Kaki-
Margareth Fishback
Suatu malam aku bermimpi, berjalan-jalan di sepanjang pantai Bersama Tuhanku... Melintas di langit gelap babak-babak hidupku...
Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki, yang sepasang milikku... dan yang lain milik Tuhanku... Ketika babak terakhir terkilas dihadapanku, aku menengok jejak-jejak kaki diatas pasir, dan betapa terkejutnya diriku...
Kulihat bahwa acapkali disepanjang hidupku, hanya ada sepasang kaki... Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku berada pada saat yang paling menyedihkan.... Hal ini selalu menggangguku....
dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilemaku ini...
"...Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu, Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap denganku...... disepanjang jalan hidupku... Namun ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku, hanya ada sepasang jejak kaki... Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa ketika aku sangat membutuhkan-Mu, Engkau meninggalkan aku..."
Ia menjawab dengan lembut,
"... Anak-Ku, Aku sangat mengasihimu dan tidak akan pernah membiarkanmu terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang,,, Apabila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki, itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku..."